Program Earthquake & Tsunami Response INANTA

 

PERAN INANTA DALAM PENANGANAN BENCANA SULAWESI TENGAH

Oleh: Jasmani Ghadi (Program Manager INANTA)

Penanganan bencana gempa bumi dan tsunami Palu telah memasuki fase pemulihan dan pembangunan kembali. Sejak fase tanggap darurat dan transisi, berbagai bantuan telah disalurkan di semua titik terdampak. Kebutuhan makanan, air bersih dan hunian sementara menjadi prioritas penanganan. Pengungsi membutuhkan suplai makanan dan air bersih yang terjangkau dan sehat, serta hunian yang dekat pada keadaan bermartabat. Sampai dengan akhir Januari, data penduduk terdampak terutama total korban jiwa sebanyak 4,547 (2,830 meninggal, 701 hilang dan 1,016 dikubur massal), sementara jumlah total jiwa mengungsi dan menempati hunian darurat sebanyak 172,999 jiwa (53,172 Kepala keluarga). Jumlah ini berasal dari 100,405 rumah yang rusak (rusak ringan 40,085, rusak sedang 26,122 unit, rusak berat sebesar 30,148 unit dan rumah hilang sebesar 4,050 unit). Jumlah pengungsian menjadi konsetransi pemerintah dan berbagai lembaga nasional dan internasional untuk mambangun hunian sementara dan pemenuhan kebutuhan air bersih dan bahan makanan. Keterbatasan sumber daya pemerintah dalam fase pemulihan, menjadi isu penting dalam diskusi kolaboratif program. Pemerintah membuka peluang kerjasama dengan lembaga bantuan kemanusiaan, untuk mengisi kebutuhan pengungsi yang tidak terjangkau.  Hunian-hunian sementara yang dibangun oleh pemerintah memiliki berbagai keterbatasan mulai dari fasilitas penerangan yang terbatas, jumlah pengungsi tinggi, dan fasilitas air bersih yang kurang menjadi gap yang perlu segera diselesaikan.

Sejak fase emergency response, INANTA telah bekerja bersama pemerintah dan lembaga lainnya untuk melaksanakan respon kemanusiaan. Berbagai jenis bantuan telah disalurkan, diantaranya 1,000 paket family kits, 2,000 school kits dan bantuan water supply serta hygiene promotion. INANTA berkomitmen terlibat penuh pada setiap aspek pelayanan kemanusiaan sesuai dengan standar global dan berpihak pada kelompok rentan. Respon kemanusiaan INANTA kerjasama JUH telah memberi dampak pemulihan bagi 12,622 jiwa dari 3,063 kepala di Kabupaten Sigi dan Kota Palu, terutama pada hunian sementara dan kamp darurat dengan berbagai keterbatasan.

Sebanyak 2,000 anak (siswa) telah dapat kembali bersekolah dan mengakses pendidikan dengan paket school kits yang lengkap. 1,000 kepala keluarga yang menempati tenda-tenda pengungsian mampu menjalankan aktivitas rumah tangga dari bantuan family kitsshelter materials dan cooking tools yang diberikan. 1,631 perempuan dapat menggunakan paket hygiene kits untuk aktivitas sanitasi dan peningkatan kesehatan. 7,200 jiwa (2063 Kepala keluarga) telah menikmati bantuan air bersih yang mudah dijangkau dan memenuhi standar kesehatan untuk air bersih bagi pengungsi.

 

 

 

Proses pengerahan bantuan sangat mengutamakan keberpihakan pada wilayah dengan tingkat kerusakan tinggi dan belum terjangkau oleh bantuan yang sama dari lembaga lain. Seleksi penerima mengutamakan kelompok rentan dan kelompok miskin sebagai sasaran. Kabupaten Sigi merupakan wilayah dengan tingkat penerima bantuan paling tinggi, wilayah-wilayah dengan kerusakan tinggi mendapat survei dan assessment. Detail keseluruhan penerima manfaat bantuan INANTA-JUH sebagai berikut:

Program Items HoH M F Child Totally
Distribution Family Kits 1000 1791 1631 1125 3422
School Kits   1,005 995 2,000 2,000
WASH Pumping water system 389 729 697 493 1426
Piping Systems 210 428 371 256 799
Borehole 72 131 126 92 257
Shalow well 60 100 99 50 199
Water Trucking 1,332 2,336 2,183 1,443 4,519
  Total 3,063 6,520 6,102 5,459 12,622
 Program Items Pax M F Child
Training DRR 25 3 22 0
CLTS Training 25 3 22 0
CLTS Replication 503 185 318 55
  Total 553 191 362 55

Jumlah kepala keluarga penerima manfaat melibihi target dari 1,000 kepala keluarga yang direncanakan. INANTA berusaha menjangkau lebih besar kepala keluarga terdampak (pengungsi) dengan seleksi yang ketat dan penilaian kebutuhan yang mendesak. INANTA membangun jejaring kerjasama dengan berbagai pihak terutama pada pemerintah setempat, koordinasi lintas klaster dan masyarakat terdampak sebagai penerima manfaat langsung dari respon bantuan yang diberikan.