Berita, Palu, Sigi & Donggala, Succes Story

Hunian Aman Untuk Hidup Di Usia Senja

Masjidin menikmati tinggal seorang diri di hunian barunya. Keluarga dan anggota masyarakat turut bekerja sama dan peduli menjaga kelompok rentan di Desa Lende Tovea

Masjidin (84 tahun) yang sudah tinggal sendiri tidak berharap banyak lagi dari kehidupan. Kedua anaknya sudah berkeluarga tinggal di rumah lain yang berjarak beberapa rumah sedangkan anak yang dulu tinggal bersamanya telah lebih dulu meninggal dunia karena sakit, menyisakan luka di hati Masjidin dan ruang yang tadinya kosong diperuntukkan untuk anaknya di hunian baru mereka, kini diisi oleh mesin parutan kelapa yang selalu dirawatnya setiap hari. Di usianya yang telah senja, ia tidak berharap banyak lagi dari kehidupan dan hanya ingin hidup dengan tenang. Tidak terbayang sama sekali bahwa bencana akan terjadi di desanya.

Gempa 7,4 SR pada tanggal 28 September 2018 yang melanda disusul dengan tsunami di Desa Lende Tovea  terasa seperti mimpi menyedihkan yang jadi kenyataan. “Putih. Waktu gempa pertama, semua terlihat putih. Kedua kali, sudah tidak ada lagi suara (gemuruh). Tidak ada lagi yang dipikirkan, hanya ingat saja kasih selamatkan diri, lari ke masjid di depan situ.” cerita Masjidin. Jari-jari rentanya nampak bergetar saat mengaitkan kancing kemeja yang dikenakannya untuk ke masjid sore itu. “Saya seperti dibuang-buang macam bola. Saya pegang erat-erat itu pohon mangga.”

Selamat dari peristiwa yang telah menelan banyak korban jiwa di Palu, Sigi dan Donggala, mengakibatkan kerusakan insfrastruktur, dan tatanan sosial masyarakat, Masjidin kembali hanya untuk mendapati rumah yang ditinggalinya hancur rata dengan tanah. Bersama dengan warga lain yang selamat, dalam keadaan panik, ketakutan dan dengan terpaksa bergerak untuk mengungsi ke kaki Gunung Bosa, menjadi tujuan warga lain yang selamat.

Selama empat hari hanya mengonsumsi pisang yang diambil dari kebun-kebun di sekitar pengungsian. Situasi yang jauh dari kata stabil, nyaman dan penuh ketidakpastian, utamanya bagi kelompok rentan seperti lansia, perempuan dan anak, memicu kekhawatiran di hati masyarakat, termasuk Masjidin. Namun, tidak ada hal lain yang dapat dilakukan selain bertahan, menunggu dan memasrahkan diri hingga bantuan datang. Justru pikiran yang sering berkelabat di dalam benaknya selama berada di kaki Gunung Baso untuk mengungsi pasca gempa yang terjadi 28 September 2018, “Bagaimana kalau saya mati di sini (pengungsian)?” ujar Masjidin lirih. Masjidin menceritakan ketakutan yang dirasakannya terhadap binatang liar seperti nyamuk, ular dan lainnya, selama di lokasi pengungsian yang pada dasarnya di kelilingi hutan sehingga memaksanya dan warga dewasa lain bertahan untuk tidak tidur demi memastikan anak-anak mereka tertidur nyenyak dan aman. “Waktu di tenda, itu yang kita khawatirkan, binatang. Tapi di bawah juga, saya takut air (tsunami).” tambah Masjidin. Sesaat ia terdiam sebelum menyambung berkata, “Takut mati juga.”

Kematian tidak dapat dihindari, pasti terjadi dan di luar daripada kontrol manusia. Begitupun bencana yang terjadi. Yang dapat dilakukan adalah menjadikan hidup terasa cukup normal bagi mereka yang telah melalui waktu-waktu sulit saat dan pasca bencana, seperti yang diupayakan oleh Yayasan INANTA.

Selain beribadah, membaca buku merupakan salah satu kegiatan disukai Masjidin untuk menghabiskan waktu di rumah.

Yayasan INANTA bermitra dengan Church World Service (CWS) memberikan bantuan pasca gempa dan tsunami September 2018 di 5 desa di Kabupaten Donggala, termasuk Desa Lende Tovea untuk pembangunan Transitional Shelter atau Hunian Transisi yang dimaksudkan dapat ditingkatkan ke dalam struktur  yang lebih permanen atau dapat dipindahkan ke lokasi permanen. Serta memastikan penerima manfaatnya merasa lebih aman, lebih bermartabat dan memberikan ruang privasi karena hunian ini dirancang mengikuti Standar Sphere untuk memastikan keamanan, kebutuhan kelompok rentan dan rencana pengembangan di masa depan.

“Tinggal di sini (hunian transisi), saya sudah pasang kelambu. Sudah senang. Kalau mau keluar rumah, pintu tinggal dikunci. Bagus dan nyaman, sama nyamannya dengan waktu tinggal di rumah saya yang rubuh saat gempa, sudah tidak ada nyamuk, tidak ada lagi yang menggangggu.” Sekarang Masjidin tidak lagi bekerja seperti dulu, pacul dan parang miliknya sudah diistirahatkannya hampir 2 tahun terakhir ini. Ia menghabiskan waktunya dengan memperbanyak beribadah dan menikmati hari-hari tuanya di hunian transisi.

Bantuan Hunian Transisi menjangkau dan memberikan pendampingan bagi 208 keluarga terdampak utamanya kelompok rentan; perempuan sebagai kepala keluarga, penyandang disabilitas dan masyarakat terdampak seperti Masjidin yang merupakan seorang lanjut usia sebagai prioritas sehingga mudah mengakses bantuan.