Berita, Palu, Sigi & Donggala, Succes Story

Mimpi Hanis Tarau, Seorang Nelayan di Sivalenta

“Sulit menjangkau tempat ini. Sebagian warga di sini masih belum punya motor. Jadi, kami harus jalan kaki sekitar 4 kilometer untuk sampai ke jalan utama. Bahkan lebih sulit lagi selama musim hujan.” Tutur Hanis Tarau, 48 tahun, salah satu kepala keluarga di perkampungan kecil dan terpencil, Sivalenta.

Setelah gempa bumi dan tsunami, jalanan yang dilintasi sehari-hari tersapu dan sekarang tertutupi oleh lebih banyak pasir sehingga hal itu menjadi tantangan bagi kendaraan untuk mengaksesnya. Hal ini menyulitkan banyak lembaga kemanusiaan untuk memberikan bantuan kepada masyarakat di Sivalenta yang terletak jauh dari bagian lain di Desa Lende Tovea. Terlepas dari kondisi jalan, INANTA, sebagai mitra lokal CWS, merespon dan menjangkau Hanis Tarau bersama dengan 14 kepala keluarga lain yang tinggal menetap di daerah tersebut.

Peristiwa tanggal 28 September 2018 menyebabkan banyak keluarga yang selamat dan kembali kepada keadaan dimana baik tempat tinggal maupun harta bendanya rusak, hancur atau hilang akibat bencana, salah satunya, Hanis Tarau. “Ombaknya tidak sekeras tsunami yang saya bayangkan sebelumnya. Perlahan-lahan dia naik sampai ke belakang rumah. Perahupun tidak hanyut.” Kata Hanis.

“Gempa bumi itu yang merusak dan menghancurkan. Tapi kami bersyukur, kami masih sama-sama.”

Selamat dari bencana, warga diperhadapkan pada situasi sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dulu, setiap harinya, Hanis pergi memancing sebagai satu-satunya sumber mata pencaharian. Situasi yang tidak menentu tentunya tidak memberikan Hanis pilihan lain. Meski rasa trauma, dan ketakutan masih membayanginya ditambah dengan berkurangnya alat untuk memancing, Hanis kembali berlayar satu minggu setelah situasi berbahaya pada hari itu. “Kalau saya tidak pergi memancing, keluargaku makan apa? Walaupun alat-alat rusak dan hancur, saya pakai apa yang ada.”

Hanis Tarau sekembalinya dari melaut menunjukkan hasil tangkapannya hari itu.

 

Melalui Program Pemulihan Mata Pencaharian, INANTA dan CWS memberikan bantuan transfer tunai di Kabupaten Sirenja sehingga penerima manfaat seperti Hanis dapat mengganti alat-alatnya yang rusak atau hilang dengan peralatan baru dan memiliki kualitas yang lebih baik.

 

Bantuan tersebut mendorongnya untuk terus maju dalam kehidupan secara bertahap dan ia dapat memperoleh penghasilan sampai sumber penghasilannya bagi keluarganya aman dan kembali stabil dengan penghasilan rata-rata dari memancing sekarang adalah sekitar Rp100.000 (7 USD) per hari.

Bantuan yang diberikan oleh INANTA dan CWS memungkinkan Hanis memiliki mimpi yang lebih besar untuk membeli kapal yang lebih besar sehingga ia dapat berlayar ke perairan jauh dan mendapatkan lebih banyak ikan untuk menjangkau pasar yang lebih luas.